Seluma --Seorang siswa kelas 3 Sekolah Dasar di wilayah Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Bengkulu, dilaporkan tidak mau lagi bersekolah selama dua bulan terakhir. Kondisi ini diduga dipicu trauma setelah mengalami tekanan saat berada di lingkungan sekolah.
Informasi tersebut mencuat setelah sejumlah awak media turun langsung ke lapangan guna menelusuri kebenaran kabar yang beredar di masyarakat.
Ibu korban, AMA, mengungkapkan bahwa anaknya, AN, mengalami perubahan sikap drastis dan menolak kembali ke sekolah.
“Anak saya tidak mau lagi sekolah karena trauma. Sudah dua bulan dia tidak masuk,” ujar AMA kepada wartawan, Kamis (10/04/2026).
Saat dikonfirmasi langsung, AN terlihat enggan memberikan banyak keterangan. Ia hanya menggelengkan kepala dan berulang kali mengatakan tidak ingin kembali ke sekolah, baik di sekolah sebelumnya maupun jika dipindahkan ke tempat lain.
AMA juga menjelaskan bahwa anaknya memiliki daya tangkap yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya, sehingga sempat mendapatkan pembelajaran khusus dari pihak sekolah.
Namun, menurut pengakuannya, sepulang sekolah anaknya pernah menangis dan menyatakan tidak ingin kembali karena merasa mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.
Di hari yang sama, pihak media melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah terkait permasalahan tersebut.
Kepala sekolah membantah adanya tindakan kekerasan atau perlakuan tidak layak terhadap AN. Ia justru menjelaskan bahwa siswa tersebut dikenal cukup aktif dan kerap melakukan tindakan agresif terhadap teman-temannya.
“Beberapa wali murid melapor bahwa anak mereka sering dipukul oleh AN. Bahkan hampir satu kelas pernah kena,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak sekolah juga meluruskan terkait isu “ruang isolasi” yang disebutkan.
“Itu bukan ruang isolasi, melainkan ruang pembelajaran khusus bagi anak-anak dengan daya tangkap yang berbeda. Saat ini ada lima siswa yang dibina di sana dan sudah menunjukkan perkembangan seperti bisa membaca dan menulis,” tambah kepala sekolah.
Kasus ini pun memunculkan perhatian publik, terutama terkait pendekatan pendidikan terhadap anak dengan kebutuhan belajar khusus serta pentingnya komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua.




