KALIMANTAN BARAT – Senin, 23 Februari 2026 – Distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kalimantan Barat ramai diperbincangkan setelah hari ini, Senin (23/2/2026), beredar luas di media sosial unggahan menu MBG yang menampilkan porsi dan komposisi paket dari sejumlah titik layanan. Dalam unggahan yang beredar, warganet menyampaikan kritik terkait kelayakan bahan dan standar menu, termasuk roti kemasan yang disebut mendekati masa kedaluwarsa, buah yang dinilai belum matang, hingga paket yang oleh sebagian warganet dianggap lebih mirip takjil daripada menu bergizi seimbang.
Selain itu, muncul pula informasi/aduan dari orang tua penerima manfaat terkait MBG balita, berupa roti (sapau/roti bun) yang dikeluhkan bertekstur keras dan dikhawatirkan kurang sesuai untuk anak usia dini. Keluhan ini menambah perhatian karena balita merupakan kelompok rentan, sehingga aspek tekstur pangan sesuai usia menjadi faktor penting untuk mencegah risiko tersedak sekaligus memastikan makanan dapat dikonsumsi dengan baik.
Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan paket makanan kering/kemasan, umumnya berisi roti/kue kemasan, susu kotak, dan buah, serta item tambahan seperti kurma atau kacang. Narasi yang menyertai unggahan beragam, mulai dari pertanyaan mengenai “buffer” atau batas minimal sisa masa simpan produk sebelum dibagikan, hingga isu keterterimaan menu bagi anak.
Informasi yang beredar tersebut masih berupa unggahan publik dan memerlukan verifikasi resmi dari instansi berwenang. Di ruang publik, sejumlah pertanyaan menguat: apakah ada standar minimal sisa masa simpan (buffer) untuk produk kemasan, siapa yang melakukan pemeriksaan kualitas (quality check) sebelum paket dibagikan, bagaimana mekanisme penanganan komplain orang tua serta monitoring lapangan, dan apakah untuk MBG balita tersedia standar khusus, termasuk standar tekstur pangan yang sesuai usia.
Sorotan juga mengarah pada fungsi pengawasan tim pelaksana atau Satgas MBG di daerah. Publik menilai pengawasan yang terukur diperlukan untuk memastikan mutu, keamanan, dan konsistensi layanan, terutama karena program menyasar anak sekolah dan kelompok rentan.
Hingga berita ini diturunkan, klarifikasi resmi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait di tingkat daerah belum tersedia, sehingga informasi yang beredar masih berada pada tahap aduan publik dan menunggu verifikasi oleh otoritas berwenang.
Dalam perspektif kebijakan kesehatan masyarakat, MBG adalah program penguatan gizi anak yang perlu ditopang kajian ilmiah berbasis ilmu , mencakup nutrisi, epidemiologi, perkembangan anak, serta kebijakan berbukti. Tanpa fondasi tersebut, MBG dapat dipersepsi sekadar pembagian makanan tanpa ukuran hasil yang jelas. MBG juga dipandang sebagai investasi kesehatan, pendidikan, dan produktivitas karena berkaitan dengan upaya menekan stunting dan anemia serta mendukung konsentrasi belajar. Karena itu, ukuran program tidak semata jumlah paket yang tersalurkan, melainkan mutu gizi, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dan pengawasan yang transparan.
MBG merupakan program layanan publik berskala besar. Selain target penyaluran, indikator yang menjadi perhatian masyarakat meliputi keamanan pangan, kelayakan konsumsi, konsistensi mutu, serta transparansi pengawasan.
---SERGAP Dirgantara7












