SERGAP7// JAKARTA, 21 Mei 2026 – Nasib ribuan guru honorer di seluruh Indonesia kian memprihatinkan dan terhimpit hebat. Di tengah nilai tukar rupiah yang terus tergerus dan melemah tajam terhadap dolar AS, dampak langsungnya terasa sangat menyakitkan: harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga keperluan sekolah melonjak naik. Namun, nasib ribuan pendidik yang menjadi tulang punggung pendidikan di daerah terpencil maupun perkotaan ini justru tak berubah, dengan penghasilan yang tetap tertahan sangat rendah, jauh di bawah standar hidup layak.
Pengamat Kebijakan Pendidikan sekaligus Guru Besar Hukum, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SE., SH., MH. mengemukakan penilaian tegasnya bahwa kondisi ini sudah berada di ambang batas darurat. Menurutnya, ketidakpastian nasib guru honorer ditambah tekanan ekonomi akibat pelemahan nilai mata uang, membuat profesi mulia ini semakin terpinggirkan, padahal merekalah yang paling berperan dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa.
"Nasib guru honorer saat ini sangat menyedihkan dan semakin terhimpit. Ketika rupiah melemah, harga barang dan kebutuhan hidup serba naik, tapi apa yang mereka terima tetap sama, bahkan ada yang masih digaji di bawah Rp500.000 sebulan. Angka itu tak ada artinya sama sekali di kondisi ekonomi sekarang. Ini adalah ketidakadilan nyata yang dibiarkan berlarut-larut bertahun-tahun," tegas Prof. Sutan dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Prof. Sutan menjelaskan, pelemahan rupiah berdampak berantai. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan biaya operasional sehari-hari membuat nilai riil penghasilan guru honorer makin menyusut. Uang yang mereka terima sekarang nilainya jauh lebih kecil dibandingkan beberapa tahun lalu, padahal beban kerja dan tanggung jawab mereka justru semakin berat, ditambah jumlah siswa yang terus bertambah.
"Bisa dibayangkan, ada guru honorer yang mengajar puluhan jam dalam sehari, mengurus administrasi, sampai turun ke lapangan mendampingi siswa, tapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga sendiri. Ini ironi besar. Negara kaya raya, tapi pendidiknya dibiarkan hidup pas-pasan, tertekan ekonomi, dan masa depannya tak jelas," lanjutnya dengan nada tinggi.
Menurut penilaiannya, pemerintah pusat tidak boleh lagi bersikap lambat atau sekadar memberikan janji manis tanpa bukti. Prof. Sutan menuntut agar Presiden Republik Indonesia turun tangan langsung dan bersikap tegas. Di tengah gejolak ekonomi makro yang memukul daya beli masyarakat, perlindungan dan kepastian nasib guru honorer harus jadi prioritas utama kebijakan negara.
"Presiden perlu bersikap! Jangan biarkan masalah ini menjadi bom waktu bagi dunia pendidikan. Saya minta keputusan politik yang kuat: ada kepastian pengangkatan, ada penyesuaian penghasilan yang mengikuti kondisi ekonomi dan nilai mata uang, serta jaminan kesejahteraan yang layak. Jangan sampai kualitas pendidikan kita jatuh hanya karena gurunya tidak tenang mengajar akibat terbebani masalah ekonomi yang berat," tandasnya.
Lebih jauh, Prof. Sutan mengingatkan, kualitas pendidikan bangsa sangat bergantung pada kesejahteraan pendidiknya. Jika guru honorer semakin terhimpit, kehormatan profesi pendidik akan luntur, dan orang-orang berpotensi baik akan enggan masuk ke dunia pendidikan. Ia menegaskan, menyelamatkan nasib guru honorer di tengah pelemahan rupiah saat ini sama artinya menyelamatkan masa depan anak bangsa dari kebodohan dan ketertinggalan.
"Ubah kebijakan, alokasikan anggaran yang benar-benar memihak pendidik. Jangan lagi ada cerita guru honorer yang harus mengajar sambil memikirkan besok makan apa. Saatnya Presiden bertindak nyata, bukan sekadar seremonial, demi menghargai jasa-jasa mereka yang bekerja tulus demi negeri ini," pungkas Prof. Dr. Sutan Nasomal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respon resmi terkait rencana penyesuaian kesejahteraan atau kebijakan baru yang spesifik mengatasi beban berat yang dirasakan ribuan guru honorer di tengah tekanan ekonomi saat ini.
Red/ Prof






