Ketahanan layanan perlu diperkuat untuk mengantisipasi kekeringan berkepanjangan dan kebutuhan air masyarakat pada musim kemarau berikutnya.
SAMBAS, KALIMANTAN BARAT | SERGAP DIRGANTARA7 — Minimnya curah hujan, cuaca panas dan kabut asap mulai berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah Kabupaten Sambas. Organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, relawan, aparat dan warga bahu-membahu menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dokumentasi lapangan memperlihatkan warga membawa jeriken, galon, ember hingga drum untuk menampung air. Bagi keluarga yang sumber airnya mulai berkurang, bantuan tersebut menyentuh kebutuhan paling dasar sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Sambas pada 30 Agustus 2026 juga menyatakan kemarau telah berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah. Minimnya sumber air tidak hanya memengaruhi kebutuhan warga, tetapi juga menyulitkan upaya pemadaman kebakaran di tengah kabut asap.
Di tengah kondisi tersebut, gerakan berbagi air menjadi bentuk nyata kepedulian. Kita perlu mampu merasakan kesulitan saudara-saudara kita yang pada saat bersamaan menghadapi kabut asap dan keterbatasan air bersih. Doa, kebersamaan, gotong royong dan kepekaan sosial menjadi kekuatan ketika kebutuhan dasar mulai terganggu.
Namun solidaritas masyarakat perlu berjalan bersama kesiapan pelayanan publik. Seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan berharap wilayah yang saat ini mengalami kesulitan air segera dipetakan untuk menjadi prioritas penguatan jaringan perpipaan, SPAM, reservoir, sumber air baku dan sumur bor yang memenuhi kajian teknis.
Warga tersebut juga menyebut, sejauh informasi yang diketahuinya, Perumda Air Minum Tirta Muare Ulakan belum memiliki armada tangki air bersih sendiri. Keterangan ini belum dikonfirmasi secara resmi kepada Perumda. Dari laman publik perusahaan yang ditelusuri redaksi, informasi mengenai jumlah armada tangki darurat juga belum tercantum secara jelas. Perumda mencatat sebanyak 16.508 pelanggan per 7 September 2026.
Kabupaten Sambas sebenarnya telah memiliki sistem informasi penyediaan air bersih dan air minum masyarakat yang diarahkan untuk memperluas akses air secara layak dan berkelanjutan. Kondisi kemarau saat ini dapat menjadi dasar untuk memperbarui peta wilayah rawan, sumber air cadangan, jaringan yang belum terlayani dan kebutuhan pelayanan darurat.
Antisipasi diperlukan karena potensi kekurangan air bukan persoalan satu musim atau satu tahun. Jika periode kering berulang, ketergantungan masyarakat terhadap sumur, air tanah dan sungai akan kembali menghadapi tekanan.
Gotong royong membantu masyarakat hari ini. Perencanaan yang kuat harus memastikan air tetap tersedia untuk hari esok.
Kemarau di Sambas tidak cukup dijawab dengan bantuan air bersih dari hari ke hari. Gotong royong masyarakat sangat penting, tetapi jika dalam sepekan hujan tetap tidak turun atau sangat minim, tekanan terhadap sumur, air tanah dan sungai berpotensi semakin berat.
Karena itu, langkah paling rasional adalah bergerak sebelum krisis membesar: petakan wilayah rawan, siapkan sumber air cadangan, pastikan kapasitas distribusi dan armada darurat, serta jadikan daerah yang berulang kali kesulitan air sebagai prioritas penguatan SPAM dan jaringan perpipaan.
Jangan menunggu sumur kering untuk menyusun rencana. Solidaritas menyelamatkan hari ini, tetapi ketahanan air hanya dapat dibangun melalui kesiapan dan perencanaan jangka panjang.
Air bersih bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Jangan menunggu sumur mengering dan jeriken kembali berbaris untuk menentukan wilayah mana yang membutuhkan penguatan pelayanan. Pengalaman hari ini seharusnya menjadi peta kerja menghadapi musim kemarau berikutnya.





