-->

IKLAN

Iklan Atas

 


Air Pontianak Terasa Asin, Warga Dorong Inovasi Ketahanan Air Bersih Jangka Panjang

Kamis, 8/27/2026 WIB Last Updated 2026-08-27T12:45:06Z

Keluhan dari warung kopi hingga media sosial beriringan dengan data resmi meningkatnya kadar garam Sungai Kapuas. Persoalan berulang saat kemarau dinilai perlu dijawab dengan penguatan sumber air baku, transparansi kualitas dan inovasi teknologi pengolahan.


SERGAPDIRGANTARA7 | PONTIANAK —  Kamis,27 Agustus 2026 -  Keluhan air ledeng terasa asin kembali mengemuka di Kota Pontianak. Percakapan warga dari warung kopi hingga media sosial kini beriringan dengan fakta resmi bahwa sumber utama air baku kota terdampak intrusi air laut di tengah musim kemarau.


Pemerintah Kota Pontianak pada Kamis, 27 Agustus 2026, menyatakan kadar garam Sungai Kapuas telah melampaui 5.000 miligram per liter. Kondisi tersebut memengaruhi kualitas air baku sehingga air yang didistribusikan kepada masyarakat terasa asin.


Seorang warga Pontianak yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menilai persoalan tersebut semestinya menjadi momentum memperkuat inovasi pelayanan dasar, bukan sekadar menunggu hujan mengembalikan kondisi sungai.


“Sekarang air asin sudah menjadi pembicaraan dari warkop sampai media sosial. Kalau persoalan seperti ini berulang saat kemarau, pemerintah dan PERUMDA harus memikirkan sistem air bersih untuk lima, sepuluh bahkan puluhan tahun ke depan. Air bersih adalah kebutuhan dasar,” ujarnya kepada SergapDirgantara7.


Kondisi ini bukan persoalan yang sama sekali baru. Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kota Pontianak telah mencatat bahwa kualitas air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak sangat dipengaruhi musim. Pada kemarau, persoalan utamanya adalah tingginya kadar garam akibat intrusi air asin ketika debit dari hulu berkurang.


Dokumen tersebut bahkan menegaskan perlunya inovasi teknologi pengolahan air baku yang mampu menghadapi kadar garam tinggi akibat intrusi, perubahan pH dan karakteristik air baku lainnya.


Secara hidrologis, ketika debit air tawar dari hulu melemah, pengaruh air laut dapat bergerak lebih jauh ke sistem sungai. Data Pemkot pada 11 Agustus 2026 menunjukkan kadar garam air baku berbeda antarinstalasi, yakni sekitar 2.903 mg/l di Nipah Kuning, 1.100 mg/l di Selat Panjang, lebih dari 700 mg/l di Imam Bonjol, serta 400–600 mg/l di Parit Mayor.


Karena itu, persoalannya tidak cukup berhenti pada mengapa air terasa asin hari ini. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa tangguh sistem penyediaan air Pontianak menghadapi perubahan kualitas sumber air baku yang telah diketahui dapat berulang saat kemarau.


Upaya Pemkot mengoptimalkan Waduk Penepat sebagai sumber air baku cadangan merupakan langkah penting. Namun ketahanan air jangka panjang memerlukan strategi lebih luas melalui diversifikasi sumber air, peningkatan kapasitas tampungan, perlindungan sumber air serta modernisasi teknologi pengolahan.


Salah satu opsi yang secara ilmiah dapat dikaji adalah reverse osmosis (RO) untuk air payau. Teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) juga dapat dibandingkan apabila karakter sumber air dan studi kelayakan memang membutuhkan desalinasi dengan tingkat lebih tinggi.


RO menggunakan tekanan dan membran semipermeabel untuk mengurangi garam serta berbagai zat terlarut. Namun pilihan teknologi harus berdasarkan karakter air baku, bukan sekadar nama teknologi.

Kajian perlu menjawab salinitas, TDS dan klorida pada setiap sumber dan periode musim; fluktuasi akibat pasang surut; kapasitas produksi; kebutuhan energi; biaya investasi dan operasi; umur membran; serta pengelolaan konsentrat atau brine.


Dengan demikian, inovasi bukan berarti membeli teknologi paling mahal. Inovasi adalah memilih teknologi yang tepat secara teknis, layak secara ekonomi, aman bagi lingkungan dan mampu menjamin kontinuitas pelayanan masyarakat.


PERUMDA Tirta Khatulistiwa juga perlu terus memperkuat transparansi hasil pengujian kualitas air baku dan air olahan, terutama selama kemarau. Informasi mengenai salinitas, TDS, klorida, kekeruhan dan parameter relevan lainnya penting agar masyarakat memperoleh informasi berdasarkan data terukur.


Keluhan warga dari warung kopi hingga media sosial memang bukan hasil laboratorium. Namun ketika keluhan tersebut beriringan dengan data resmi pemerintah mengenai peningkatan kadar garam Sungai Kapuas, suara masyarakat tidak semestinya berhenti sebagai “kabar burung”. Ia merupakan sinyal pelayanan publik yang perlu dijawab dengan data, transparansi, inovasi dan kebijakan.


Kemarau adalah fenomena alam, tetapi risiko terhadap pelayanan air bersih dapat dipetakan dan dipersiapkan. Ketika intrusi air laut telah lama dikenali sebagai persoalan berulang, tantangan Pontianak bukan hanya mengatasi air asin hari ini, tetapi memastikan pelayanan air bersih tidak terus bergantung pada datangnya hujan untuk kembali normal.




Komentar

Tampilkan

  • Air Pontianak Terasa Asin, Warga Dorong Inovasi Ketahanan Air Bersih Jangka Panjang
  • 0

Terkini

ads bottom PASANG IKLAN ?