-->

IKLAN

Iklan Atas

 


Senja Jingga di Pemangkat, Paru-Paru Warga Terpapar Udara Kabur di Tengah Karhutla

Selasa, 9/08/2026 WIB Last Updated 2026-09-08T12:15:46Z

 


PEMANGKAT, SAMBAS | SERGAP DIRGANTARA7 — Menjelang pukul 17.00 WIB, Selasa, 8 September 2026, langit Pemangkat tampak jingga kusam. Bangunan di kejauhan terlihat samar, sementara aktivitas masyarakat tetap berlangsung di tengah udara kabur setelah periode panjang minim hujan dan karhutla di Kalimantan Barat.


Kondisi ini tidak cukup dibaca sebagai fenomena warna langit. Persoalan utamanya adalah kesehatan manusia yang setiap saat bergantung pada udara untuk bernapas.


Secara ilmiah, tidak tepat menyebut oksigen berubah menjadi “oksigen bercampur karbon”. Udara tetap mengandung oksigen, tetapi asap karhutla membawa campuran PM2.5, PM10, karbon monoksida, nitrogen dioksida, senyawa organik dan berbagai produk pembakaran. WHO menyebut PM2.5 sebagai ancaman utama kesehatan dari asap kebakaran karena partikelnya dapat menembus jauh ke paru-paru dan sebagian komponennya dapat memasuki aliran darah. 


Lalu, berapa lama paru-paru manusia mampu bertahan?


Tidak ada batas waktu universal seperti “tujuh hari” atau “dua minggu” yang dapat dinyatakan aman. Dampak bergantung pada konsentrasi polutan, lama dan frekuensi paparan, kondisi kesehatan serta usia. Bahkan paparan jangka pendek selama satu atau beberapa hari telah dikaitkan dengan iritasi saluran napas, batuk, mengi, sesak, serangan asma, gangguan kardiovaskular hingga peningkatan kunjungan rumah sakit.


Jika paparan tinggi berlangsung berulang selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, alasan untuk waspada semakin kuat. EPA mencatat penelitian awal yang menemukan penurunan fungsi paru pada tahun-tahun berikutnya setelah paparan asap tinggi berulang selama beberapa minggu. Bukti jangka panjang memang masih terus diteliti, sehingga tidak ilmiah menentukan satu angka “daya tahan paru-paru” untuk semua orang.


Artinya, tubuh manusia bukan mesin yang memiliki penghitung mundur sebelum paru-parunya “menyerah”. Risiko sudah mulai meningkat sejak paparan terjadi, dan semakin penting dikendalikan ketika konsentrasi tinggi serta durasinya memanjang.


Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru dan penyakit jantung merupakan kelompok yang lebih rentan. Pekerja luar ruang dan masyarakat yang setiap hari harus beraktivitas di tengah asap juga menghadapi paparan lebih besar. 


Analogi sederhananya cukup jelas: ikan membutuhkan air yang sehat untuk bernapas melalui insang, manusia membutuhkan udara yang sehat untuk bernapas melalui paru-paru. Ketika medium kehidupan tercemar terus-menerus, tubuhlah yang membayar harganya.


Karena itu, kabut asap bukan sekadar masalah kehutanan. Ia merupakan persoalan kesehatan masyarakat, iklim, hidrologi gambut, tata guna lahan, pendidikan, ekonomi, ketahanan air dan pelayanan publik.


Hujan tentu menjadi harapan masyarakat Pemangkat setelah berminggu-minggu menghadapi panas dan udara kabur. Namun hujan tidak dapat menjadi satu-satunya strategi. Sumber api harus dikendalikan, gambut dipadamkan hingga tuntas, penyalaan baru dicegah dan masyarakat dilindungi selama kualitas udara belum pulih.


Senja jingga mungkin tampak indah dalam foto. Tetapi ketika warna itu hadir bersama asap, pertanyaan terpenting bukan seberapa indah langit terlihat, melainkan seberapa sehat udara yang masuk ke paru-paru warga.


Manusia dapat menunda banyak kebutuhan. Bernapas tidak termasuk di antaranya.

Komentar

Tampilkan

  • Senja Jingga di Pemangkat, Paru-Paru Warga Terpapar Udara Kabur di Tengah Karhutla
  • 0

Terkini

ads bottom PASANG IKLAN ?