-->

IKLAN

Iklan Atas

 


Paru-Paru Dunia Berduka: Risiko Karhutla Sudah Terbaca, Mengapa Api Masih Berulang di Kalimantan Barat?

Senin, 8/31/2026 WIB Last Updated 2026-08-31T15:30:29Z

Risiko kebakaran tidak dapat diramal sampai titik dan menit penyalaan. Namun musim rawan, kekeringan, kondisi gambut dan peningkatan bahaya dapat dibaca lebih awal. Ketika ilmu telah memberi peringatan, ukuran keberhasilan tidak cukup pada seberapa cepat api dipadamkan, tetapi seberapa efektif kebakaran dicegah sebelum terjadi.


SERGAP DIRGANTARA7 | KALIMANTAN BARAT,Senin 31 Agustus 2026 — Kalimantan, yang secara populer kerap disebut bagian dari “paru-paru dunia”, kembali menghadapi tekanan serius pada penghujung Agustus 2026.


Data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga 30 Agustus pukul 21.02 WIB mencatat 455 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, tertinggi di antara enam provinsi prioritas yang dilaporkan saat itu. Kementerian menegaskan hotspot merupakan indikasi panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran. Pada saat yang sama, penanganan karhutla berlangsung di 16 lokasi di Kalbar. 


Dampaknya tidak berhenti di satu daerah. Kualitas udara di sejumlah titik pemantauan Kalimantan Barat tercatat bervariasi dari sedang hingga tidak sehat, sangat tidak sehat bahkan berbahaya. Di Bandara Supadio, Pontianak, jarak pandang turun menjadi sekitar 1,3 kilometer dalam kondisi berasap pada 31 Agustus pagi. 


Risiko Sudah Bisa Dibaca Secara ilmiah, karhutla memang tidak dapat diprediksi secara deterministik hingga menjawab siapa yang menyalakan api, pada koordinat mana dan pukul berapa. Tetapi tingkat risikonya dapat diperkirakan.


BMKG mencatat indeks Niño 3.4 pada Dasarian II Agustus 2026 mencapai +2,99°C, menunjukkan El Niño sangat kuat. Kalimantan Barat juga telah berada dalam musim kemarau, sementara sebagian besar Kalimantan masuk peringatan kekeringan meteorologis.


Karena itu, penjelasan “karena kemaraubelum cukup.


Kemarau dan El Niño meningkatkan bahaya. Gambut yang mengering, perubahan kondisi lahan, drainase dan turunnya muka air meningkatkan kerentanan. Sementara sumber penyalaan menentukan apakah kondisi rawan benar-benar berubah menjadi kebakaran.


Dengan kata lain, kemarau menjelaskan mengapa lahan lebih mudah terbakar, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana api bermula, mengapa menyebar, atau apakah sistem pencegahan telah bekerja.


Pemerintah Bergerak, Efektivitas Tetap Harus Diuji


Pemerintah bukan tanpa tindakan. Pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pengecekan lapangan, pencegahan dan modifikasi cuaca terus dilakukan bersama unsur Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah dan masyarakat. 


Justru karena prediksi dan intervensi tersedia, pertanyaan kebijakannya menjadi lebih objektif sekaligus lebih tajam:

Apakah pencegahan dilakukan cukup dini? Apakah wilayah paling rawan terjangkau? Apakah muka air gambut terjaga? Apakah kanal dan sumber penyalaan diawasi? Dan apakah intervensi benar-benar menurunkan kejadian kebakaran?


Itulah evaluasi berbasis bukti, bukan tuduhan.

Ketika Habitat Ikut Menanggung Akibat

Karhutla tidak selesai pada angka hotspot.


Pada 30 Agustus, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi seekor orangutan jantan dewasa dalam kondisi lemah dari kebun sawit masyarakat di Ketapang. Kawasan berhutan di sekitar lokasi sedang terbakar dan berasap, sementara tim tidak menemukan sumber air. Dugaan awal mengarah pada paparan asap dan kekurangan cairan, meski pemeriksaan medis lanjutan masih diperlukan. 


Peristiwa itu menunjukkan sisi krisis yang kerap hilang dari statistik: manusia masih dapat mengungsi, tetapi pohon tidak dapat berlari, sarang tidak dapat berpindah, dan tidak semua satwa mampu meninggalkan habitat sebelum api datang.


Andre, aktivis lingkungan Kalimantan Barat asal Kabupaten Sambas dan mantan Ketua LSM WAPATARA (Wahana Pelestarian Alam Nusantara), menilai persoalan karhutla harus diuji melalui sains, hukum dan kebijakan publik, bukan berhenti pada alasan musim.


“Alam bukan tidak dapat dibaca. Sebelum api muncul, ilmu sudah membaca tandanya: hujan berkurang, gambut mengering, muka air turun dan risiko meningkat. Kalau indikator sudah diketahui tetapi kebakaran tetap berulang, pertanyaannya tidak cukup dijawab dengan kata ‘kemarau’. Yang harus diuji adalah apakah sistem pencegahannya bekerja.”


Ia juga mendorong perguruan tinggi, akademisi dan peneliti lebih aktif membawa ilmu ke ruang publik.


“Di sinilah tanggung jawab epistemologis dunia akademik. Ilmu tidak boleh berhenti di jurnal, seminar dan ruang kuliah. Akademisi harus berani menjelaskan apa yang diketahui, apa yang belum pasti, apa yang dapat dibuktikan, dan apakah kebijakan telah sesuai dengan bukti.”


Tanggung jawab menjaga lingkungan, menurutnya, pada akhirnya juga menyangkut masa depan manusia.


“Masa depan ada di tangan kita. Memahami tanda-tanda alam berarti memahami bahwa lingkungan yang sehat adalah syarat kehidupan. Alam tidak membutuhkan janji, tetapi pengetahuan, tanggung jawab dan tindakan nyata. Pertanyaannya sederhana: bumi seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya?”


Prediksi memang bukan kepastian. Tetapi prediksi menyediakan waktu untuk mencegah.

Karena itu, pertanyaan publik tidak cukup lagi berhenti pada “mengapa terbakar?”

Pertanyaannya harus lebih lengkap:

Apa yang sudah diketahui? Kapan diketahui? Apa yang dilakukan setelah risiko diketahui? Dan apakah tindakan itu benar-benar berhasil mencegah kebakaran?


Paru-paru dunia tidak membutuhkan belas kasihan setelah terbakar. Ia membutuhkan ilmu yang berani berbicara, kebijakan yang mau diuji, dan pencegahan yang bekerja sebelum api menyala.

Komentar

Tampilkan

  • Paru-Paru Dunia Berduka: Risiko Karhutla Sudah Terbaca, Mengapa Api Masih Berulang di Kalimantan Barat?
  • 0

Terkini

ads bottom PASANG IKLAN ?