-->

IKLAN

Iklan Atas

 


Kabut Asap Masih Pekat di Pontianak, Warga Antre Air Tawar di Booster Perumnas III

Selasa, 9/15/2026 WIB Last Updated 2026-09-15T06:31:27Z

BMKG mencatat udara kabur dengan jarak pandang sekitar satu kilometer. Di Pontianak Timur, warga berbondong-bondong mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga di tengah dampak kemarau panjang.


PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT – Kabut asap masih terlihat menyelimuti sejumlah kawasan Kota Pontianak, Selasa (15/9/2026). Pada saat bersamaan, warga Pontianak Timur ramai mendatangi Booster Perumnas III milik Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa untuk memperoleh pasokan air tawar.


Dokumentasi lapangan pada Selasa siang memperlihatkan lapisan asap membatasi pandangan di sejumlah kawasan perkotaan. Bangunan dan objek pada jarak tertentu tampak samar, sementara aktivitas masyarakat tetap berlangsung.


Kondisi tersebut diperkuat data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada pukul 11.00 WIB, BMKG mencatat kondisi “udara kabur” di kawasan Pelabuhan Utama Dwikora Pontianak dengan jarak pandang sekitar satu kilometer. 


Di tengah kondisi udara yang terganggu, persoalan ketersediaan air tawar juga masih dirasakan masyarakat.


Pantauan di Booster Perumnas III memperlihatkan warga datang membawa galon dan berbagai wadah penampungan. Antrean terbentuk pada sejumlah keran yang disediakan untuk melayani pengambilan air.


Berdasarkan pemberitahuan yang terpasang di lokasi, pengambilan pada Selasa dibatasi maksimal dua galon untuk setiap orang guna menjaga ketertiban dan pemerataan. Pengambilan menggunakan mobil tidak dilayani, kecuali kendaraan yang telah mendapat izin. Pelayanan pada hari itu tercantum berlangsung hingga pukul 14.00 WIB.


Booster Perumnas III merupakan salah satu titik layanan air tawar gratis yang disediakan Pemerintah Kota Pontianak bersama Perumda Tirta Khatulistiwa. Kebijakan tersebut dijalankan menyusul terganggunya kualitas air baku akibat musim kemarau dan intrusi air asin. Pemerintah menegaskan air yang disediakan diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga dan tidak untuk diperjualbelikan.


Pemkot Pontianak juga memperluas distribusi air tawar melalui kelurahan, kecamatan dan sejumlah titik publik. Pemerintah mengarahkan penyediaan tempat penampungan berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Air yang disalurkan telah melalui pengolahan Perumda Tirta Khatulistiwa, namun warga tetap dianjurkan memasaknya sebelum dikonsumsi.



Situasi pada Selasa memperlihatkan dua tekanan lingkungan yang terjadi bersamaan di Pontianak: gangguan kualitas udara dan tekanan terhadap ketersediaan air baku tawar.


Keduanya tidak serta-merta dapat ditarik sebagai hubungan sebab-akibat langsung. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana tekanan lingkungan dapat bersentuhan langsung dengan kebutuhan paling mendasar masyarakat, yakni udara yang sehat dan ketersediaan air yang aman serta mencukupi.


Karena itu, keterbukaan informasi mengenai kualitas udara, perkembangan kebakaran hutan dan lahan, kondisi sumber air baku, kapasitas pasokan hingga titik distribusi air menjadi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan berdasarkan informasi yang akurat.


Perhatian khusus juga diperlukan bagi kelompok rentan terhadap pencemaran udara, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Dalam persoalan air, kontinuitas pasokan perlu dijaga agar kebutuhan dasar rumah tangga dan fasilitas pelayanan publik tidak terganggu.


Penanganan jangka pendek melalui distribusi air dan respons terhadap kabut asap tetap penting. Namun dalam jangka panjang, pemerintah perlu memperkuat ketahanan sumber air baku, pencegahan kebakaran lahan, pengendalian pencemaran udara serta sistem peringatan dan informasi publik yang terukur.


Antrean warga di Perumnas III dan langit Pontianak yang masih tertutup asap menjadi gambaran sederhana dari persoalan yang sangat mendasar: ketika udara dan air mulai tertekan, isu lingkungan berhenti menjadi persoalan abstrak dan langsung berubah menjadi persoalan kesehatan, kehidupan sehari-hari, serta kepentingan publik.


Harapannya, situasi ini tidak berlangsung lama. Hujan yang mulai berpeluang kembali di berbagai wilayah Kalimantan Barat membawa harapan bagi pemulihan kondisi lingkungan. Namun udara yang sehat dan air yang aman bukan kebutuhan yang boleh bergantung pada datangnya hujan semata, melainkan kebutuhan dasar yang harus dijaga keberlanjutannya.


SERGAP DIRGANTARA7

Pontianak, Selasa, 15 September 2026

Komentar

Tampilkan

  • Kabut Asap Masih Pekat di Pontianak, Warga Antre Air Tawar di Booster Perumnas III
  • 0

Terkini

ads bottom PASANG IKLAN ?