SAMBAS, KALIMANTAN BARAT, 2 SEPTEMBER 2026 | SERGAP DIRGANTARA7 — Kabut asap yang semakin pekat di sejumlah wilayah Kabupaten Sambas memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan peserta didik. Kondisi tersebut mendorong perlunya evaluasi pembelajaran tatap muka berdasarkan kualitas udara, risiko kesehatan, dan kondisi faktual di lapangan.
Fajar, pemuda asal Sambas, meminta Pemerintah Daerah, pihak sekolah, dan wali murid bersama-sama mengawal kebijakan pendidikan selama kabut asap berlangsung.
Menurutnya, apabila kondisi udara dinilai tidak aman bagi kesehatan, penyesuaian pembelajaran tatap muka atau peliburan sementara perlu dipertimbangkan sebagai langkah pencegahan, tanpa menghentikan hak siswa untuk tetap memperoleh pendidikan.
“Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas. Jika kondisi udara tidak memungkinkan, penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti pendidikan berhenti, tetapi merupakan langkah kehati-hatian untuk mengurangi paparan asap,” ujar Fajar.
Ia menilai keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada data kualitas udara, perkembangan kondisi lapangan, serta rekomendasi Dinas Kesehatan dan instansi terkait, bukan semata-mata berdasarkan penilaian visual terhadap ketebalan kabut asap.
Fajar juga mendorong wali murid aktif mengawasi kondisi anak. Apabila pembelajaran dialihkan ke rumah, orang tua diharapkan memastikan proses belajar tetap berlangsung sekaligus membatasi aktivitas anak di luar ruangan.
“Wali murid bukan hanya penerima kebijakan. Mereka juga bagian dari kontrol sosial. Jika kondisi memburuk, informasi dari masyarakat harus menjadi bahan evaluasi bagi sekolah dan pemerintah,” katanya.
Menurutnya, komunikasi antara pemerintah daerah, sekolah, tenaga kesehatan, dan orang tua harus berlangsung cepat dan terbuka agar setiap kebijakan dapat menyesuaikan perubahan tingkat risiko.
“Pendidikan tetap penting, tetapi kesehatan adalah fondasinya. Kebijakan yang baik harus mampu melindungi anak dari paparan asap sekaligus memastikan proses belajar tetap berjalan,” pungkas Fajar.
Di tengah kondisi kabut asap, kebijakan pendidikan dinilai perlu berpijak pada data yang terukur, prinsip kehati-hatian, perlindungan kesehatan, dan kepentingan terbaik peserta didik.




