PONTIANAK/SAMBAS, 17 Desember 2025/Sergap dirgantara7— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak menerbitkan peringatan potensi banjir pesisir (rob) untuk periode 19–26 Desember 2025, seiring konfigurasi astronomi fase Bulan Baru pada 20 Desember 2025 yang dapat meningkatkan pasang maksimum.
Rob adalah genangan air laut yang masuk ke daratan pesisir saat pasang tinggi. Dampaknya cenderung meningkat di kawasan rendah, pelabuhan, permukiman pesisir, serta wilayah muara ketika aliran air dari darat tertahan oleh kenaikan muka air laut.
Dalam dokumen resmi bernomor ME.01.02/INFOMET/350/KPTK/XII/2025 tertanggal 16 Desember 2025, BMKG menyebut prakiraan disusun dari pemantauan water level dan prediksi pasang surut, dengan lampiran prediksi pasang surut merujuk data Pushidrosal. BMKG memperingatkan potensi gangguan terhadap aktivitas di sekitar pesisir, termasuk bongkar muat, aktivitas di permukiman pesisir, serta tambak/perikanan darat.
Kapan risiko tertinggi terjadi
BMKG memetakan jendela waktu pasang tinggi untuk dua lokasi rujukan pesisir Kalimantan Barat:
Kota Pontianak dan sekitarnya: pasang harian diprakirakan 1,6–1,8 meter pada 19–26 Desember 2025, dengan rentang waktu rawan 06.00–12.00 WIB. Puncak pasang tertinggi diprakirakan mencapai 1,8 meter pada 22–23 Desember sekitar 09.00–10.00 WIB.
Kendawangan dan sekitarnya: pasang harian diprakirakan 1,8–1,9 meter pada 19–23 Desember 2025, dengan rentang waktu rawan 09.00–12.00 WIB. Puncak pasang tertinggi diprakirakan mencapai 1,9 meter pada 21–22 Desember sekitar 10.00–11.00 WIB.
BMKG menekankan masyarakat pesisir untuk waspada dan siaga, terutama pada jam-jam puncak pasang.
Sambas keluarkan pengumuman siaga: pesisir, sungai, hingga risiko listrik
Sejalan dengan peningkatan risiko hidrometeorologi, Pemerintah Kabupaten Sambas menerbitkan Pengumuman Bupati Sambas Nomor 300.2.3/634/PK/BPBD/2025 tertanggal 16 Desember 2025 tentang antisipasi dan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi.
Pengumuman tersebut mengarahkan kewaspadaan pada kombinasi ancaman banjir/banjir rob, banjir bandang, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan gelombang pasang, dengan perhatian khusus kepada masyarakat pesisir, nelayan, operator transportasi laut, wilayah aliran sungai, serta titik rawan longsor.
Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah mitigasi bahaya sekunder: keselamatan kelistrikan. Aparat desa diminta mengimbau warga untuk melindungi kelompok rentan (anak-anak, ibu hamil, lansia, difabel, orang sakit) dan memastikan aliran listrik aman saat terjadi kenaikan air, termasuk mematikan listrik untuk mencegah risiko tersengat.
Pemkab Sambas juga mencantumkan jalur koordinasi cepat dengan BPBD Kabupaten Sambas melalui Media Center Bencana (WhatsApp 0821-4930-0028).
Mengapa fase Bulan Baru meningkatkan risiko pasang
Secara umum dalam ilmu pasang surut, fase Bulan Baru dapat memperkuat rentang pasang karena gaya tarik Bulan dan Matahari berada pada konfigurasi yang meningkatkan amplitudo pasang. Dampaknya paling terasa di wilayah pesisir rendah dan muara, terutama bila bersamaan dengan hujan atau angin yang dapat memperburuk genangan dan mengganggu aktivitas.
Catatan: Dampak rob bersifat lokal, dipengaruhi topografi pesisir, sistem drainase, kondisi muara, serta cuaca harian. Warga disarankan memantau pembaruan informasi dari kanal resmi dan menghindari titik rawan pada jam puncak pasang, serta menempatkan keselamatan listrik sebagai prioritas saat air mulai naik.


















